Featured Posts

Senang Bertemu Anda “ Aku senang mas ketemu kalih jenengan, ketemu jenengan stres ku iso ilang mas, seneng mas ketemu wong sing nyambung, nang jobo kono aku stress mas” seorang bapak2 berumur 40an tahun mengatakan hal...

Read more

Memanfaatkan USB Flashdisk sebagai RAM Dua hari kemaren, teman saya menyarankan saya untuk mencoba memanfaatkan USB Flasdisc sebagai RAM. Dia mengungkapkan bahwa dengan Flasdisk 1Gb bisa memperlancar kerja CPU atau laptop. Hmm, boleh dicoba....

Read more

Cerita lama Waton nuduh!! Mungkin ini postigan yang gak mutu dan gak penting.., Disini saya cuma mo cerita tentang pengalamanku yang, hmmm cukup menegangkan, tapi kalo diingat saya bakalan ingat kampus ini. Cerita ini berawal...

Read more

Doa untuk Sekeranjang Tempe

Posted by Jauhari | Posted in Motivasi | Posted on 03-07-2009

7

Dalam hidup ini tidak semua yang terjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan atau rencanakan. Namun kita wajib berusaha untuk mencapai semua harapan, mimpi dan tujuan hidup.  Ya, tidak semuanya berjalan mulus, dan kadang kita malah mendapatkan sesuatu yang ternyata lebih berharga daripada apa yang kita harapkan. Cerita dibawah ini saya dapatkan dari milis, kiriman dari Ibrahim Utomo. Cerita yang menyadarkan kita untuk selalu bersyukur kepada Allah atas semua nikmat yang diberikan kepada kita dan jangan pernah merasa bahwa dunia itu tidak adil. Karena ada skenario besar dibelakangnya, yang kadang kita tidak pernah tahu. Dan kita akan tahu setelah kita merasakan nikmat yang begitu besarnya. Ketika kita mensyukuri nikmat yang diberikan oleh Nya. Allah lah yang tau tentang yang terbaik buat kita, bukan kita sendiri. Karena Dia adalah Maha Tahu.

Begini ceritanya:

Seorang ibu penjual tempe merasa Allah tidak mendengar doanya, karena tempe buatannya masih belum jadi. Bukan sekali dua kali dia bikin tempe. Padahal dia harus menjual tempe untuk menafkahi hidupnya.
Di Karangayu, sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah, hiduplah seorang ibu penjual tempe. Tak ada pekerjaan lain yang dapat dia lalukan sebagai penyambung hidup. Meski demikian, nyaris tak pernah lahir keluhan dari bibirnya. Ia jalani hidup dengan riang. “Jika tempe ini yang nanti mengantarku ke surga, kenapa aku harus menyesalinya. ..” demikian dia selalu memaknai hidupnya.

Suatu pagi, setelah salat subuh, dia pun berkemas. Mengambil keranjang bambu tempat tempe, dia berjalan ke dapur. Diambilnya tempe-tempe yang dia letakkan di atas meja panjang. Tapi, deg! dadanya gemuruh.
Tempe yang akan dia jual, ternyata belum jadi. Masih berupa kacang kedelai, sebagian berderai, belum disatukan ikatan-ikatan putih kapas dari peragian. Tempe itu masih harus menunggu satu hari lagi untuk jadi. Tubuhnya lemas. Dia bayangkan, hari ini pasti dia tidak akan mendapatkan uang, untuk makan, dan modal membeli kacang kedelai, yang akan dia olah kembali menjadi tempe.
Di tengah putus asa, terbersit harapan di dadanya. Dia tahu, jika meminta kepada Allah, pasti tak akan ada yang mustahil. Maka, di tengadahkan kepala, dia angkat tangan, dia baca doa. “Ya Allah, Engkau tahu kesulitanku. Aku tahu Engkau pasti menyayangi hamba-Mu yang hina ini. Bantulah aku ya Allah, jadikanlah kedelai ini menjadi tempe. Hanya kepada-Mu kuserahkan nasibku…” Dalam hati, dia yakin, Allah akan mengabulkan doanya.
Dengan tenang, dia tekan dan mampatkan daun pembungkus tempe. Dia rasakan hangat yang menjalari daun itu. Proses peragian memang masih berlangsung.
Dadanya gemuruh. Dan pelan, dia buka daun pembungkus tempe. Dan… dia kecewa. Tempe itu masih belum juga berubah. Kacang kedelainya belum semua menyatu oleh kapas-kapas ragi putih. Tapi, dengan memaksa senyum, dia berdiri. Dia yakin, Allah pasti sedang “memproses” doanya. Dan tempe itu pasti akan jadi.
Dia yakin, Allah tidak akan menyengsarakan hambanya yang setia beribadah seperti dia. Sambil meletakkan semua tempe setengah jadi itu ke dalam keranjang, dia berdoa lagi. “Ya Allah, aku tahu tak pernah ada yang mustahil bagi-Mu. Engkau Maha Tahu, bahwa tak ada yang bisa aku lakukan selain berjualan tempe. Karena itu ya Allah, jadikanlah. Bantulah aku, kabulkan doaku…”
Sebelum mengunci pintu dan berjalan menuju pasar, dia buka lagi daun pembungkus tempe. Pasti telah jadi sekarang, batinnya. Dengan berdebar, dia intip dari daun itu, dan… belum jadi. Kacang kedelai itu belum sepenuhnya memutih. Tak ada perubahan apa pun atas ragian kacang kedelai tersebut. “Keajaiban Tuhan akan datang… pasti,” yakinnya.
Dia pun berjalan ke pasar. Di sepanjang perjalanan itu, dia yakin, “tangan” Tuhan tengah bekerja untuk mematangkan proses peragian atas tempe-tempenya. Berkali-kali dia dia memanjatkan doa… berkali-kali dia yakinkan diri, Allah pasti mengabulkan doanya.
Sampai di pasar, di tempat dia biasa berjualan, dia letakkan keranjang-keranjang itu. “Pasti sekarang telah jadi tempe!” batinnya. Dengan berdebar, dia buka daun pembungkus tempe itu, pelan-pelan. Dan… dia terlonjak. Tempe itu masih tak ada perubahan. Masih sama seperti ketika pertama kali dia buka di dapur tadi.
Kecewa, airmata menitiki keriput pipinya. Kenapa doaku tidak dikabulkan? Kenapa tempe ini tidak jadi? Kenapa Tuhan begitu tidak adil? Apakah Dia ingin aku menderita? Apa salahku? Demikian batinnya berkecamuk.
Dengan lemas, dia gelar tempe-tempe setengah jadi itu di atas plastik yang telah dia sediakan. Tangannya lemas, tak ada keyakinan akan ada yang mau membeli tempenya itu. Dan dia tiba-tiba merasa lapar… merasa sendirian. Tuhan telah meninggalkan aku, batinnya.
Airmatanya kian menitik. Terbayang esok dia tak dapat berjualan… esok dia pun tak akan dapat makan. Dilihatnya kesibukan pasar, orang yang lalu lalang, dan “teman-temannya” sesama penjual tempe di sisi kanan dagangannya yang mulai berkemas. Dianggukinya mereka yang pamit, karena tempenya telah laku. Kesedihannya mulai memuncak. Diingatnya, tak pernah dia mengalami kejadian ini. Tak pernah tempenya tak jadi. Tangisnya kian keras. Dia merasa cobaan itu terasa berat…
Di tengah kesedihan itu, sebuah tepukan menyinggahi pundaknya. Dia memalingkan wajah, seorang perempuan cantik, paro baya, tengah tersenyum, memandangnya. “Maaf Ibu, apa ibu punya tempe yang setengah jadi? Capek saya sejak pagi mencari-cari di pasar ini, tak ada yang menjualnya. Ibu punya?”
Penjual tempe itu bengong. Terkesima. Tiba-tiba wajahnya pucat. Tanpa menjawab pertanyaan si ibu cantik tadi, dia cepat menadahkan tangan. “Ya Allah, saat ini aku tidak ingin tempe itu jadi. Jangan engkau kabulkan doaku yang tadi. Biarkan sajalah tempe itu seperti tadi, jangan jadikan tempe…” Lalu segera dia mengambil tempenya. Tapi, setengah ragu, dia letakkan lagi. “jangan-jangan, sekarang sudah jadi tempe…”
“Bagaimana Bu? Apa ibu menjual tempe setengah jadi?” tanya perempuan itu lagi.
Kepanikan melandanya lagi. “Duh Gusti… bagaimana ini? Tolonglah ya Allah, jangan jadikan tempe ya?” ucapnya berkali-kali. Dan dengan gemetar, dia buka pelan-pelan daun pembungkus tempe itu. Dan apa yang dia lihat, pembaca?? Di balik daun yang hangat itu, dia lihat tempe yang masih sama. Belum jadi! “Alhamdulillah! ” pekiknya, tanpa sadar. Segera dia angsurkan tempe itu kepada si pembeli.
Sembari membungkus, dia pun bertanya kepada si ibu cantik itu. “Kok Ibu aneh ya, mencari tempe kok yang belum jadi?”
“Oohh, bukan begitu, Bu. Anak saya, si Shalauddin, yang kuliah S2 di Australia ingin sekali makan tempe, asli buatan sini. Nah, agar bisa sampai sana belum busuk, saya pun mencari tempe yang belum jadi. Jadi, saat saya bawa besok, sampai sana masih layak dimakan. Oh ya, jadi semuanya berapa, Bu?”
Nahh, dalam kehidupan sehari-hari, kita acap berdoa, dan “memaksakan” Allah memberikan apa yang menurut kita paling cocok untuk kita. Dan jika doa kita tidak dikabulkan, kita merasa diabaikan, merasa kecewa,padahal, Allah Swt paling tahu apa yang paling cocok dan terbaik untuk kita, bahwa semua rencanaNya adalah yang paling sempurna.

Comments (7)

benar. ngga tau kenapa saya merasa, jalan yang saya lalui sampai kesini pun sebenernya udah diatur sama yang diatas. Allah ngga selalu mengabulkan doa atau memberikan sesuai apa yang kita inginkan. Dia bisa saja memberikan rezeki itu dalam bentuk yang lain, mungkin enggak sekarang, mungkin besok-besok atau di saat yang engga terduga.
saya selalu percaya keajaiban dari Tuhan, karena engga ada yang engga mungkin. Semuanya mungkin. Semoga dengan adanya keyakinan doa kita pasti dikabulkan , Tuhan engga membuat kita jadi manja dan malas berusaha :)

maksud kalimat terakhir saya, biarpun ada keyakinan doa kita dikabulkan tuhan, semoga hal itu ga bikin kita jadi manja dan malas berusaha, eehehe

Ak yo bli tempe dung yg stgh jadi bwt dibawa ke sempu wakwakak…

wah enak dong tempe karena jadi pembuktian tentang kuasa ILahi

mas, kamu bisa bikin buku dongeng anak loh :D
aku mau ngeprint cerita2mu ntar

Bagus, Jo. I learn a lot from this story, inspiring banget! Thanks heaps :)

haha mantab cok

Write a comment