Featured Posts

Senang Bertemu Anda “ Aku senang mas ketemu kalih jenengan, ketemu jenengan stres ku iso ilang mas, seneng mas ketemu wong sing nyambung, nang jobo kono aku stress mas” seorang bapak2 berumur 40an tahun mengatakan hal...

Read more

Memanfaatkan USB Flashdisk sebagai RAM Dua hari kemaren, teman saya menyarankan saya untuk mencoba memanfaatkan USB Flasdisc sebagai RAM. Dia mengungkapkan bahwa dengan Flasdisk 1Gb bisa memperlancar kerja CPU atau laptop. Hmm, boleh dicoba....

Read more

Cerita lama Waton nuduh!! Mungkin ini postigan yang gak mutu dan gak penting.., Disini saya cuma mo cerita tentang pengalamanku yang, hmmm cukup menegangkan, tapi kalo diingat saya bakalan ingat kampus ini. Cerita ini berawal...

Read more

Tukang Kayu dan Rumahnya

Posted by Jauhari | Posted in Motivasi | Posted on 23-06-2009

4

Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan. Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri.

Uda pernah baca cerita “Tukang Kayu dan Rumahnya”,  cerita ini begitu membuat saya untuk merenungkan tentang  apa saja yang sudah saya lakukan sampai saat ini. Kadang kita melupakan diri sendiri dan lebih mementingkan hal lain, yang sebenarnya tidak lebih penting daripada diri kita sendiri. Tapi bukan berarti saya menyarakan untuk mementingkan diri sendiri dan berlaku egois. Kegiatan sosial atau apapun kegiatan lainnya memang penting, tapi jangan pernah mengorbankan nasib masa depan yang sebenarnya ada ditangan kita (tetntunya dengan RIdho Allah SWT).

Oke deh, langsung aja baca ceritanya, cerita ini ditulis oleh Adi Sumanto.., begini ceritanya….., semoga dapat menginspirasa anda untuk hidup lebih bersemangat…

Seorang tukang kayu yang sudah tua dan tidak lagi mampu bekerja karena alasan fisik, bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah perusahaan konstruksi. Ia menyampaikan keinginannya tersebut pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tidak lagi bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya untuk menghidupi keluarganya. Namun keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk dirinya. Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan persaan malas dan ogahogahan ia mengerjakan proyek itu.Dan saat membangun rumah pesanan majikannya itu, ia menggunakan bahanbahan dengan kualitas yang sangat rendah. Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah dengan kualitas yang baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu,” katanya, “hadiah dari kami.” Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidupdi dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.

Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda. Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita bangun.

Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaikbaiknya seolaholah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan. Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri.

Comments (4)

wah2,,critane apikk

Pretty cool post. I just came across your blog and wanted to say
that I have really enjoyed reading your posts. In any case
I’ll be subscribing to your blog and I hope you post again soon!

Loved your latest post, by the way.

aku terharuuuuuu!!!! tobat ah

Write a comment